Home / CSR / Rumah Zakat, 20 Tahun Berkiprah untuk Ketahanan Pangan
(Dari kiri) CEO Rumah Zakat Nur Efendi menyerahkan Penghargaan untuk tokoh pemberdayaan yakni Ketua MPR Zulkifli Hasan, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo, Plt. Biro Umum Kepegawaian Hukum dan Organisasi Kementerian Pariwisata Cecep Rukendi dan Founder Vanila Hijab Atina Maulina saat acara "20 Tahun Pemberdayaan, Superqurban untuk Energi Berkelanjutan” di Jakarta, Kamis (26/7/2018). Foto Rino: Infomometer.co

Rumah Zakat, 20 Tahun Berkiprah untuk Ketahanan Pangan

INFOMONETER.CO,JAKARTA-Tepatnya pada 2 Juli 1998, Rumah Zakat yang dulu dikenal dengan Dompet Sosial Ummul Quro (DSUQ) hadir untuk bersinergi dalam mengatasi masalah sosial yang terjadi di dalam masyarakat. Kini, 20 tahun sudah Rumah Zakat bekerja untuk menyalurkan amanah Zakat, Infak, Shadaqah (ZIS) para donatur kepada lebih dari 27 juta Penerima Layanan Manfaat (PLM) yang tediri dari 9.268.338 PLM di bidang kesehatan, 5.933.392 PLM di bidang pendidikan, 4.159.213 PLM di bidang ekonomi dan 8.049.985 PLM di bidang lingkungan yang tersebar dari Aceh hingga Papua. Adapun beragam program pemberdayaan di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lingkungan tersebut diimplementasikan di 1.194 Desa Berdaya yang tersebar di 207 kabupaten kota.

“Saat ini, Rumah Zakat telah memiliki 8 Klinik Pratama, 51 Ambulance, 20 Mobil Klinik, 18 Sekolah Juara dan 2 Mobil Juara yang semuanya berasal dari dana Zakat, Infak dan Sedekah para donatur,” jelas CEO Rumah Zakat, Nur Efendi.

Rumah Zakat juga konsen dalam bidang ketahanan pangan dan pemenuhan gizi masyarakat melalui optimalisasi program ibadah qurban. “Salah satu aspek yang kami perhatikan dalam upaya pemberdayaan masyarakat adalah pemenuhan gizi, terutama sumber protein bagi para penerima manfaat. Dengan gizi yang seimbang, masyarakat desa akan memiliki energi untuk lebih produktif, maju, dan berdaya,” tutur Nur Efendi.

Menurut Nur, berdasarkan data OECD 2015, tingkat konsumsi daging di Indonesia saat ini masih rendah, yakni 11,6 kilogram per kapita per tahun. Sementara angka ideal konsumsi daging sebanyak 34,19 kilogram per kapita per tahun. “Kita berada jauh di bawah Vietnam, Malaysia, Thailand, untuk jumlah konsumsi daging ini. Jika hal ini tak dicarikan solusi, maka upaya pemberdayaan yang kita lakukan akan memiliki kedala yang cukup besar,” ungkapnya.

Salah satu upaya yang dilakukan Rumah Zakat sejak tahun 2000 adalah melalui pengelolaan daging qurban menjadi kornet dan rendang, yang dikenal dengan Superqurban. Momen Idul Qurban dapat menjadi saat yang tepat bagi umat muslim untuk menyediakan sumber protein hewani, sehingga dapat dimanfaatkan lebih lama dan berkelanjutan. Melalui Superqurban, daging qurban dapat dioptimalkan menjadi cadangan makanan sebagai ikhtiar terwujudnya ketahanan pangan Indonesia dan dunia.

“Inilah yang kami sebut sebagai Energi Berkelanjutan. Daging qurban kita akan disalurkan di Desa Berdaya yang ada di 30 provinsi di Indonesia serta di wilayah-wilayah rawan pangan, sebagai persediaan pangan sumber protein hewani bagi masyarakat,” kata Nur.

Hingga kini, sebanyak 4,2 juta kaleng Superqurban didistribusikan di Indonesia dan mancanegara, dengan total penerima manfaat lebih dari 2 juta. Selain disalurkan di 34 Provinsi di Indonesia, program Qurban Rumah Zakat juga telah menjangkau Palestina, Filipina, Nepal, Myanmar, Bangladesh, Somalia, dan Syria.

Studi Kasus: Peningkatan Berat Badan Pasien Gizi Buruk di Tasikmalaya.

Namanya Bion (3,5th). Saat lahir berat badan Bion normal. Namun karena kondisi perekonomian keluarga yang kurang baik, Bion tidak mendapatkan asupan gizi seimbang yang dibutuhkan anak seusianya. Akibatnya, Bion mengalami penurunan berat badan yang cukup signifikan. Sehingga Posyandu Gunung Sari Kab. Tasikmalaya menyatakan Bion sebagai anak dengan gizi buruk.

Melihat hal tersebut, Fasilitator Desa Berdaya Rumah Zakat yang berada di Desa Gunung Sari Kab. Tasikmalaya, bekerjasama dengan Posyandu untuk memantau perkembangan Bion secara intersif. Mereka memberikan beragam makanan tambahan, termasuk Superqurban untuk dikonsumsi Bion dan keluarganya. “Alhamdulillah setelah tiga bulan pemantauan, kini berat badan Bion sudah ada kenaikan. Mudah-mudahan Bion sehat selalu dan tumbuh menjadi anak yang ceria,” tutur Fasilitator Desa Berdaya Gunung Sari, M. Fauzi Ridwan.

Superqurban untuk Warga Kekurangan Pangan di Maluku Tengah.

Sebanyak 3000 kaleng kornet dan rendang Superqurban tengah dalam perjalanan untuk disalurkan kepada warga Suku Amuse Ane di Gunung Morkelle, Maluku Tengah yang mengalami kekurangan pangan. Pemberangkatan Superqurban tersebut dilakukan siang ini, Kamis (26/7) yang dibawa oleh para relawan Rumah Zakat.

Beberapa waktu lalu, 3 warga Suku Amuse Ane yang terdiri dari 1 orang lansia dan 2 balita meninggal dunia akibat busung lapar. Menurut informasi BPBD Kabupaten Maluku Tengah, kelaparan yang terjadi diakibatkan oleh hama babi hutan dan tikus yang menyerang perkebunan milik warga. Akibatnya, saat ini warga Suku Mausu Ane mengalami krisis bahan pangan lokal.

Perjalanan yang akan dilalui Relawan menuju lokasi penyaluran cukup panjang. “Hari ini relawan berangkat dari Jakarta menuju Ambon menggunakan pesawat. Lalu dilanjut dengan perjalanan laut selama 3 jam dari pelabuhan Tulehu ke Pelabuhan Amahe di Maluku Tengah. Kemudian mereka kembali melakukan perjalanan selama 8 jam menuju lokasi penyaluran kepada warga Suku Mause Ane di Gunung Morkelle, Kabupaten Maluku Tengah. Doakan semoga perjalanan lancar dan kita bisa membantu saudara-saudara kita yang memerlukan,” ungkap Nur. (kormen)

About editor -

Check Also

Ayo Donor Darah untuk Sesama dan Kesehatan Pribadi

Infomoneter.co, Jakarta– Pembatasan mobilitas dan kekhawatiran akan penularan virus, menimbulkan berkurangnya jumlah pendonor darah selama ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *